Blogroll

Saturday, 21 March 2015

CERITA AYAH


Ayahku adalah anak bungsu. Ayahku adalah satu-satunya anak laki-laki dari empat bersaudara. Dia sangat disayang oleh kedua orangtuanya dan saudara perempuannya. Pendidikan ayahku hanya sampai kelas empat Sekolah Dasar (SD). Menurut ayahku biaya sekolah waktu itu cukup mahal. Pendapatan sehari-hari hanya cukup untuk keperluan makan.
Menginjak remaja Ayahku bekerja mengambil nira kelapa untuk dijadikan gula jawa (gula merah). Mengikuti jejak orangtuanya, apalagi ayahku adalah satu-satunya anak laki-laki. Mengambil Nira kelapa bukanlah suatu pekerjaan yang mudah. Pohonnya yang tinggi tanpa dahan dan diperlukan keberanian dan keahlian dalam memanjatnya. Meskipun sudah memiliki keahlian dan keberanian itu tidak lah cukup, karena satu hal yang penting yaitu keberuntungan.
Ayahku jatuh dari pohon kelapa yang cukup tinggi dan harus dilarikan ke rumah sakit. Ketika itu ayahku sudah menikah dengan ibuku dan ibuku sedang mengandung abangku. Ayahku mengalami patah tulang pinggul. Untunglah ayahku masih bisa berjalan dan berdiri tegak. Sekilas tidak ada yang berbeda dari gerak jalan ayahku. Tetapi ayahku tidak lagi dapat melakukan pekerjaan dan mengangkat barang yang berat.
Selang tiga tahun dari musibah itu ayahku tidak lagi mengambil Nira kelapa. Ayahku menjual bahan bakar minyak (bensin) dan makanan ringan untuk kebutuhan hidup keluarganya. Pekerjaan itu tidaklah membuat ayahku puas. Iya berfikir pekerjaan itu hanya cukup untuk makan sehari-hari dan tidak dapat membiayai sekolah anak-anaknya nanti. Ya, ketika itu ibuku sedang mengandung anak keduanya.
Setelah anak kedua ibuku lahir dan sudah berusia dua tahun Ayahku membawa istri dan anak-anaknya untuk mengikuti program Transmigrasi ke Kalimantan Barat yang dilakukan oleh Pemerintah. Rencana itu awalnya tidak disetujui oleh kedua orangtua ayahku dan saudara-saudara perempuannya. Mereka bersikeras agar ayahku tetap tinggal dan bekerja di Jawa. Mereka tidak rela anak dan saudara laki-lakinya meninggalkan mereka. Tetapi dengan bersikeras dan memberikan alasan untuk dapat hidup mapan dan menyekolahkan anak-anaknya, maka dengan berat hati kedua orangtua dan saudara-saudara perempuan ayahku mengizinkannya.
Lokasi permukiman transmigrasi berada di lingkungan permukiman penduduk asli Kalimantan. Perbedaan suku, tradisi, budaya membuat ayahku untuk lebih berhati-hati dalam bersikap. Banyak dari kalangan transmigrasi yang tidak betah atas perbedaan tradisi dan budaya tersebut dan akhirnya memutuskan untuk kembali lagi ke Jawa. Namun tidak dengan ayahku. Ayahku tetap pada pendiriannya untuk tetap bertahan karena ayahku sadar hidup dilingkungan yang baru tidaklah mudah.
Ayahku bekerja di perusahaan karet. Ayahku tidak bekerja sendiri untuk menghidupi keluarga karena ada ibuku yang juga ikut membantu ayahku bekerja diperusahaan karet mengorbankan perasaannya untuk jauh dari anak-anaknya. Pergi jauh dari lokasi permukiman menembus lebatnya hutan Kalimantan untuk membuka lahan dan ditanami dengan pohon karet. Kedua anaknya disekolahkan di sekolah perusahaan. Setiap pagi dijemput oleh mobil perusahaan dan diantar pulang ketika pulang sekolah.
Ilustrasi Kegaiatan Menoreh Pohon Karet

Lima tahun tinggal di permukiman transmigrasi ibuku mengandung anak ketiganya yaitu aku dan selang empat tahun kemudian ibuku mengandung anak keempatnya yaitu adikku. Memiliki empat orang anak merupakan anugerah buat ayah dan ibuku. Tetapi aku merasakan beratnya beban ayah dan ibuku untuk membiayai kami bersekolah. Seringkali ayahku harus meminjam uang untuk membayar biaya sekolah. Masih teringat dengan jelas dikepalaku ketika ayahku harus menggadaikan motornya untuk membayar tunggakan biaya sekolah kami dan ayahku rela untuk berjalan kaki menuju ke kebun.
Ayahku memang belum dapat menikmati hidup mapan. Rumah ayahku juga masih rumah asli transmigrasi, hanya ada tambahan ruang dapur. Tetapi apa yang dia inginkan mulai tercapai. Kedua abangku telah menamatkan pendidikannya di Perguruan Tinggi. Sementara aku sedang menjalani pendidikan diperguruan tinggi semester akhir dan adikku masih duduk dibangku sekolah menengah atas (SMA). Satu pesan dari ayahku untuk ku dan ke empat saudara-saudaraku bahwa janganlah menjadi seperti ayah yang tidak berpendidikan. Ayahku sadar pendidikan dapat membawa kekehidupan yang lebih baik.

0 comments:

Post a Comment