Ayahku adalah anak bungsu. Ayahku adalah satu-satunya anak laki-laki dari empat bersaudara. Dia sangat disayang oleh kedua orangtuanya dan saudara perempuannya. Pendidikan ayahku hanya sampai kelas empat Sekolah Dasar (SD). Menurut ayahku biaya sekolah waktu itu cukup mahal. Pendapatan sehari-hari hanya cukup untuk keperluan makan.
Menginjak
remaja Ayahku bekerja mengambil nira kelapa untuk dijadikan gula jawa (gula
merah). Mengikuti jejak orangtuanya, apalagi ayahku adalah satu-satunya anak
laki-laki. Mengambil Nira kelapa bukanlah suatu pekerjaan yang mudah. Pohonnya
yang tinggi tanpa dahan dan diperlukan keberanian dan keahlian dalam
memanjatnya. Meskipun sudah memiliki keahlian dan keberanian itu tidak lah
cukup, karena satu hal yang penting yaitu keberuntungan.
Ayahku
jatuh dari pohon kelapa yang cukup tinggi dan harus dilarikan ke rumah sakit.
Ketika itu ayahku sudah menikah dengan ibuku dan ibuku sedang mengandung
abangku. Ayahku mengalami patah tulang pinggul. Untunglah ayahku masih bisa
berjalan dan berdiri tegak. Sekilas tidak ada yang berbeda dari gerak jalan ayahku.
Tetapi ayahku tidak lagi dapat melakukan pekerjaan dan mengangkat barang yang
berat.
Selang
tiga tahun dari musibah itu ayahku tidak lagi mengambil Nira kelapa. Ayahku
menjual bahan bakar minyak (bensin) dan makanan ringan untuk kebutuhan hidup
keluarganya. Pekerjaan itu tidaklah membuat ayahku puas. Iya berfikir pekerjaan
itu hanya cukup untuk makan sehari-hari dan tidak dapat membiayai sekolah
anak-anaknya nanti. Ya, ketika itu ibuku sedang mengandung anak keduanya.
Setelah
anak kedua ibuku lahir dan sudah berusia dua tahun Ayahku membawa istri dan
anak-anaknya untuk mengikuti program Transmigrasi ke Kalimantan Barat yang
dilakukan oleh Pemerintah. Rencana itu awalnya tidak disetujui oleh kedua orangtua
ayahku dan saudara-saudara perempuannya. Mereka bersikeras agar ayahku tetap
tinggal dan bekerja di Jawa. Mereka tidak rela anak dan saudara laki-lakinya meninggalkan
mereka. Tetapi dengan bersikeras dan memberikan alasan untuk dapat hidup mapan
dan menyekolahkan anak-anaknya, maka dengan berat hati kedua orangtua dan
saudara-saudara perempuan ayahku mengizinkannya.
Lokasi
permukiman transmigrasi berada di lingkungan permukiman penduduk asli Kalimantan.
Perbedaan suku, tradisi, budaya membuat ayahku untuk lebih berhati-hati dalam
bersikap. Banyak dari kalangan transmigrasi yang tidak betah atas perbedaan
tradisi dan budaya tersebut dan akhirnya memutuskan untuk kembali lagi ke Jawa.
Namun tidak dengan ayahku. Ayahku tetap pada pendiriannya untuk tetap bertahan
karena ayahku sadar hidup dilingkungan yang baru tidaklah mudah.
Ayahku
bekerja di perusahaan karet. Ayahku tidak bekerja sendiri untuk menghidupi keluarga
karena ada ibuku yang juga ikut membantu ayahku bekerja diperusahaan karet
mengorbankan perasaannya untuk jauh dari anak-anaknya. Pergi jauh dari lokasi
permukiman menembus lebatnya hutan Kalimantan untuk membuka lahan dan ditanami
dengan pohon karet. Kedua anaknya disekolahkan di sekolah perusahaan. Setiap
pagi dijemput oleh mobil perusahaan dan diantar pulang ketika pulang sekolah.
Ilustrasi Kegaiatan Menoreh Pohon Karet
Lima
tahun tinggal di permukiman transmigrasi ibuku mengandung anak ketiganya yaitu
aku dan selang empat tahun kemudian ibuku mengandung anak keempatnya yaitu
adikku. Memiliki empat orang anak merupakan anugerah buat ayah dan ibuku.
Tetapi aku merasakan beratnya beban ayah dan ibuku untuk membiayai kami
bersekolah. Seringkali ayahku harus meminjam uang untuk membayar biaya sekolah.
Masih teringat dengan jelas dikepalaku ketika ayahku harus menggadaikan
motornya untuk membayar tunggakan biaya sekolah kami dan ayahku rela untuk
berjalan kaki menuju ke kebun.
Ayahku
memang belum dapat menikmati hidup mapan. Rumah ayahku juga masih rumah asli transmigrasi,
hanya ada tambahan ruang
dapur.
Tetapi apa yang dia inginkan mulai tercapai. Kedua abangku telah menamatkan pendidikannya
di Perguruan Tinggi. Sementara aku
sedang menjalani pendidikan diperguruan tinggi semester akhir dan adikku masih duduk dibangku sekolah
menengah atas (SMA). Satu pesan dari ayahku untuk ku dan ke empat
saudara-saudaraku bahwa janganlah menjadi seperti ayah yang tidak
berpendidikan. Ayahku sadar pendidikan dapat membawa kekehidupan yang lebih
baik.







0 comments:
Post a Comment